Pengalaman Mengikuti Seleksi Beasiswa Perintis


Hallo sahabat infoptn.id!
Apa kabar kalian? Semoga senantiasa dalam keadaan baik ya.

Pada kesempatan kali ini aku mau sharing pengalaman selama mengikuti seleksi Beasiswa Perintis sampai pada kebanggaan tersendiri bisa dinyatakan lolos. Jujur saja, Beasiswa Perintis bukanlah satu-satunya beasiswa yang aku daftari selama dibangku SMA. Sebelumnya aku daftar beberapa beasiswa juga namun hasilnya tetap dengan sebuah penolakan. It’s okay, dari sana ada banyak sekali hal yang bisa aku evaluasi supaya menjadi lebih baik kedepannya. Berharap dari apa yang aku tulis juga nantinya akan sangat bermanfaat dan bisa menginspirasi kalian yang sedang atau ingin mencari informasi terkait Beasiswa Perintis ini. Pastinya setiap akan mendaftar harus tau dulu seluk beluk beasiswanya kan? Jangan sampai terjadi hal-hal kurang baik yang tidak diinginkan deh. 

Oh ya, buat kalian yang belum tau, Beasiswa Perintis itu merupakan salah satu program beasiswa dengan cakupan mulai dari pembinaan belajar, biaya kuliah, sampai biaya hidup dari Rumah Amal Salman khusus untuk para pelajar SMA/sederajat yang punya tekad kuat melanjutkan studi di ITB.
Awalnya aku sama sekali gak ada rasa tertarik untuk kuliah di ITB sih karena seperti yang kalian tau disana hanya tersedia fakultas teknik, bisnis manajemen, satunya lagi seni rupa dan desain. Padahal aku lebih suka dunia sastra atau sosial politik, meskipun pada dasarnya anak IPA. Mungkin ini yang disebut dengan salah jurusan kali ya, hehe. Namun akhirnya berusaha membulatkan tekad untuk memilih ITB sebagai labuan melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi.

Jadi, bagaimana perjalanan aku mulai dari mendaftar dan akhirnya mendapatkan Beasiswa Perintis 2020 ini?

Pada waktu satu tahun terakhir SMA semua orang termasuk aku harus semakin giat lagi dalam belajar untuk ujian meskipun tugas dari para guru tanpa hentinya. Siapa yang gak cape sih, apalagi aku sebagai anak kostan otomatis harus bisa membagi waktu antara belajar dengan kegiatan atau pekerjaan lainnya dengan sangat baik. Tapi, kenapa saat menulis ini rasanya malah seperti mau kembali kesana ya? Secara tiba-tiba berusaha untuk mengingat kembali perjuangan kala itu.

Sedikit rollback, Oktober 2019 aku memutuskan untuk mendaftar Beasiswa Perintis bersama dengan salah satu teman setelah pihak panitia mengunjungi sekolah untuk melakukan sosialisasi. Berdasarkan paparan yang dijelaskan, tersedia dua jalur seleksi yaitu Jalur Reguler dan Jalur Hafidz Qur’an. Tentu jalur reguler lah yang aku pilih.

Pertama, Niat

Bagi aku, niat merupakan salah satu dari sekian banyaknya hal penting yang perlu dipersiapkan terlebih dahulu. Bagaimana tidak, bukan hanya saat ingin mendaftar beasiswa saja, ketika akan melakukan apapun itu jelas pertama-pertama harus diniatkan dulu hatinya dengan benar.

Aku memiliki tekad kuat untuk melanjutkan studi tanpa harus membebankan orang tua. Maka dari itu, mulailah mencari informasi terkait beasiswa dimana-mana sampailah hingga aku mendaftar Beasiswa Perintis.

Kedua, Baca dan Pahami Panduan Resmi

Secara garis besar, tahapan dalam seleksi beasiswa manapun semuanya tidak jauh berbeda. Tapi tetap harus baca dan pahami dulu mengenai panduan, timeline, dan juga berbagai persyaratan yang perlu disiapkan karena bisa saja ada kriteria khusus yang diperlukan saat mendaftar. Contohnya, di tahun 2020 pada saat aku mendaftar, Beasiswa Perintis hanya untuk para pelajar di wilayah Jawa Barat saja, sedangkan pada tahun 2021 ini cakupannya menjadi luas lagi se-Indonesia.

Seleksi Beasiswa Perintis terdiri dari 3 tahap, yaitu:

1. Seleksi Berkas
2. Tes Tulis
3. Tes Wawancara

Seleksi Berkas

Tahapan dimana kita harus melampirkan semua berkas  dokumen persyaratan yang diminta oleh pihak panitia. Seperti KTP/Kartu Pelajar, Kartu Indonesia Pintar/Surat Keterangan Tidak Mampu, Kartu Keluarga, scan rapor semester 1-5, surat rekomendasi sekolah, sertifikat prestasi bila ada, dan lain sebagainya.

Setelah selesai mengirim semua berkas dan memastikan semua dokumen dapat dibaca dengan jelas, hampir saja lupa kalau jeda ke pengumuman peserta yang lolos ke tahap tes tertulis itu mungkin cuma sekitar satu minggu lagi. Dari sana aku terus berdoa setiap hari supaya dimudahkan dan bisa lolos sampai pada tahap akhir nanti.

Saat pengumuman tiba, Alhamdulillah namaku ada tertera dalam peserta yang lolos menuju tahap tes tulis bersamaan dengan tiga orang teman kelasku juga. Padahal, kalau tidak salah hampir mencapai ribuan peserta yang mendaftar.

Tes Tulis

Setelah pengumuman kelulusan seleksi pemberkasan pada tahap sebelumnya, masih ada tes tertulis yang harus diikuti para peserta. Tes tulisnya sendiri dilakukan secara offline karena dilaksanakan pada akhirnya bulan Oktober 2019 yang mana belum terjadi pandemi Covid-19. Ujian tulis tersebut dilaksanakan secara serentak di 27 kota/kabupaten Provinsi Jawa Barat. Kebetulan sekolahku termasuk salah satunya, sehingga tidak jauh dan cukup berjalan kaki saja dari kostan.

Saat itu hanya tersisa waktu beberapa hari lagi menuju tes tulis, sedangkan aku belum mempersiapkan semuanya secara matang karena masih sibuk berkutat dengan tugas dan kegiatan sekolah lainnya. Meskipun materi yang akan diujikan di set sama dengan materi seleksi masuk perguruan tinggi pada umumnya atau kerap kali disebut dengan UTBK.

20 Oktober 2019. Tes tulis dimulai dari pagi sampai menjelang sore. Dimulai dengan materi Tes Potensi Skolastik (TPS) sebanyak 80 soal, kemudian Tes Kemampuan Akademik (TKA) baik yang memilih Saintek atau Soshum sama-sama berjumlah 80 soal. Pas ngerjain TPS ya bisa dibilang lancar dan otak masih seger juga waktu pagi, lain hal lagi dengan TKA. Masa baru ngerjain beberapa soal pertama aja rasanya mau nangis, tingkat kesulitannya memang patut diacungi jempol sih atau aku aja yang emang gak bisa ya sampe akhirnya cuma bisa bengong doang, bahkan semua soal kimia kayak main nge-blok aja pilih jawaban A, hehe. Tapi alhamdulillah, takdir Allah lebih kuat membawaku terpilih menjadi salah satu dari 250 peserta yang lolos ke tahap selanjutnya untuk wawancara.

Wawancara

Merupakan momen paling menegangkan karena untuk pertama kalinya aku ikut wawancara yang sifatnya formal banget. Percaya deh, hampir tiap hari di sekolah saat jam istirahat pasti minta temanku untuk menanyakan beberapa hal yang dicari dari berbagai sumber sebagai bentuk latihan dan ternyata persiapan itu memang lumayan cukup membantu, hehe. Padahal sebetulnya waktu masih SMP sering ada wartawan yang sengaja datang ke sekolah untuk minta wawancara menanyakan terkait beberapa prestasi yang aku raih ditingkat provinsi dan lain sebagainya. 

Untuk seputar pertanyaannya sendiri mudah kok, masih terkait diri kita, keluarga, sekolah, pengalaman, dan lain sebagainya. Sedikit terharu sampi nangis juga karena sadar bahwa perjuangan aku bisa sampai disana itu sungguh berat. Kuncinya cuma harus percaya diri dan jujur akan setiap jawaban kita aja sih. Berusaha menunjukkan bahwa kita itu benar-benar layak mendapatkan beasiswanya. Meskipun perasaan ragu, takut, atau tegang itu akan selalu ada walau sedikit.

Namun, setelah selesai tahap wawancara ternyata masih ada satu tahapan lain yang sebelumnya diluar dugaan. Ketika hari libur sekolah, ada salah satu panitia yang meminta alamat rumah karena katanya akan dilakukan survei secara langsung. Keesokan harinya memang benar, ada panitia yang datang ke rumah tapi sayang aku masih di kostan dan tidak bisa pulang juga karena besoknya hari Senin harus kembali ke sekolah.

Ya, kurang lebih begitulah singkatnya tentang rangkaian perjalanan yang aku lalui selama mengikuti seleksi. Alhamdulillah atas izin Allah aku bisa lolos lagi, yang tadinya 250 peserta kini tinggal menyisakan 150 orang. Kemudian disuruh menunggu agenda selanjutnya yaitu libur akhir semester atau akhir tahun untuk melaksanakan Learning Camp.

Mungkin untuk saat ini itu dulu ya yang bisa aku sampaikan, mohon maaf apabila terdapat salah kata. Semoga bisa bermanfaat dan memberikan gambaran lebih rinci agar persiapan teman-teman yang ingin mendaftar di tahun berikutnya bisa lebih baik lagi. Insyaallah, nanti akan aku tulis juga bagaimana keseruan selama Learning Camp dan berbagai kegiatan lainnya sampai bisa menjadikan aku sebagai sosok perempuan yang lebih kuat, percaya diri, tidak mudah menyerah, dan tentunya lebih dekat lagi kepada Sang Maha Pencipta.

Sampai Jumpa!